"Lebih baik capek kerja daripada capek cari kerja."

Kalimat ini sering kita dengar, seolah menggambarkan bahwa pekerjaan apa pun layak disyukuri. Tapi jika ditelaah lebih dalam, pernyataan ini justru mencerminkan kegagalan sistemik : bahwa mencari kerja menjadi lebih melelahkan daripada bekerja itu sendiri. Padahal, kondisi ini bukan semata-mata karena semua orang "males kerja", melainkan bisa jadi karena pengangguran memang dipelihara secara struktural dan salah satu aktornya adalah negara.

Dalam teori ekonomi politik, khususnya pemikiran Karl Marx, dikenal istilah industrial reserve army yaitu kelompok pengangguran yang secara tidak langsung dibutuhkan untuk menjaga buruh tetap patuh. Ketika banyak orang butuh kerja, maka upah bisa ditekan, dan protes bisa diminimalkan. Pemerintah mungkin tidak menciptakan pengangguran secara langsung, tapi mereka membiarkan sistem pasar kerja tetap timpang : memperlonggar aturan kontrak, membiarkan outsourcing, dan melemahkan serikat pekerja. Kebijakan pendidikan pun tak jarang mencetak lulusan yang tidak terserap industri.

Ketika pengangguran terus tinggi, posisi tawar pekerja lemah. Mereka terpaksa menerima pekerjaan apa saja, bahkan dengan bayaran minim, demi bertahan hidup. Maka wajar jika muncul pertanyaan: apakah pemerintah benar-benar tidak mampu mengatasi pengangguran, atau justru membiarkan kondisi ini karena menguntungkan secara politis dan ekonomi? Kalau dibiarkan, kita semua hidup dalam sistem yang menyamaratakan eksploitasi sebagai kerja keras.