Waktu pertama kali
merantau dari desa ke kota, aku kira tantangan terbesarnya adalah soal biaya hidup, tempat tinggal, atau cari kerja. Ternyata bukan. Tantangan paling berat justru datang dari dalam diri sendiri: rasa malu. Malu kalau ditanya asal, malu karena logat masih agak aneh karena ga biasa ngobrol sama orang kota, malu karena gak ngerti gaya hidup kota. Aku jadi serba sungkan. Mau mulai usaha kecil, takut diketawain. Mau ikut komunitas, minder duluan. Lama-lama aku sadar, kalau saya terus dikendalikan rasa malu, aku gak akan pernah maju.

Aku lihat orang lain yang juga sama-sama dari kampung, tapi mereka berani buka mulut, berani salah, berani tampil apa adanya. Di situlah aku mulai belajar : malu itu gak bisa dibunuh, tapi bisa dilangkahi. Kita tetap bisa maju meskipun malu. Dalam buku "Daring Greatly", Brené Brown bilang, "Courage starts with showing up and letting ourselves be seen." Kita gak harus jadi sempurna dulu untuk mulai kita cukup jujur dan hadir sepenuhnya dengan versi diri kita yang sekarang.

Pelan-pelan, aku mulai ngonten meski awal-awal cuma konten berbentuk tulisan saja. Aku juga coba jualan walau awalnya ditolak orang. Aku juga sering hadiri acara, walau seringkali jadi orang paling pendiam di ruangan. Dan ternyata, justru itu titik baliknya. Ketika aku berani menantang rasa malu, perlahan aku lihat dunia mulai membuka ruang. Bukan karena aku lebih hebat, tapi karena aku gak lagi disetir oleh rasa malu, melainkan oleh keberanian untuk tetap melangkah.